Oleh : Mahfudin Arsyad (pendiri dan pengasuh pondok pesantren yatim dan dhuafa)

Hidupku terlunta-lunta dibumi ini. makan sedapatnya. Apalagi urusan sandang dan papan. Wuih...jauh kebedug. Baju hanya beli setahun sekali. Itupun kalau ada orang yang ngasih duit. Kalau ndak, ya terpaksa pakai baju yang the kill of the kumel. Dekil, kumel dan kucel. Habis mau gimana lagi? Mau nyalahin Allah, enggak mungkin banget. Siapa juga yang berani sama Allah? Wong DIA itu Tuhan yang maha perkasa dan tak ada yang mampu mengalahkanNYA. Jadi mending diam dan pasrah dengan keadaan. Sebetulnya aku sadar banget, bahwa tindakanku yang diam serta pasrah terhadap keadaan itu adalah tindakan yang salah besar dalam hidup ini. Allah itu tidak pernah menyiksa hambaNYA dengan kesengsara’an bermodel apapun. Yang bikin seseorang menderita, alias ngebelangsak, adalah dirinya sendiri. Kausa prima atau hukum sebab musabbab.
Kulakukan apapun buat cari duit. Yang penting halal dan tidak merugikan orang lain. Mencuci mobil, dengan penghasilan 3000 rupiah perhari, merupakan keberkahan bagiku. Sebab menurutku yang penting aku telah berupaya. Masalah hasil, Allah lebih bijaksana terhadap hambaNYA. Setelah letih dan tak ada kemajuan, aku ganti profesi dengan menjadi kuli panggul kayu disebuah pabrik furniture. Sehari Cuma dibayar 7000. tapi alhamdulillah. Itu berarti sudah ada peningkatan dalam hidupku. Namun tidak lama, aku beralih menjadi seorang penjaja asongan dilampu merah. Penghasilanku tidak menentu. Kadang dapat 10.000 sehari, kadang tidak sama sekali.
Aku sendiri bingung. Mengapa aku mau menjadi seperti ini. padahal pendidikanku lumayan. Pernah dipesantren selama enam tahun. Bahkan pernah kuliah, meski hanya sampai strata satu, alias dokterandes. Huah, mau gimana lagi. Cari pekerjaan sangat sulit di negri ini. mesti punya uang banyak buat pelicin atau punya saudara pejabat, biar urusan jadi lancar.
Suatu ketika, saat aku berteduh dari sengat panas siang hari yang terik, teman cilik seperjuanganku dalam berdagang asongan, terlihat sakit dibalik semak tumpukan kardus. Kuhampiri, dan kupegang jidatnya. “subhanallah...badan kamu panas banget ...”. aku bergegas kewarung buat beli bodreksin. Obat penurun panas buat anak-anak. Kemudian, ku kompres keningnya dengan air dingin. Ketika malam tiba, tubuhnya makin panas. Bibirnya bergetar dan giginya bergemeletak. Sedangkan ia hidup sebatangkara didunia ini. Aku panik. Tak tahu harus bicara kepada siapa. Bergegas ku gendong dan membawanya ke dokter. Namun sayang, sesampainya dirumah sakit, aku dan farhan seperti diacuhkan. Sudah menunggu hampir satu jam, para suster, tak juga ada yang mengunjungi kami. Aku berlari menghampiri setiap dokter yang berlalu dikoridor rumah sakit, namun lagi-lagi mereka hanya menyuruhku untuk menunggu. Hingga hampir dua jam aku menunggu, dan kuhampiri lagi dokter jaga yang terlihat sedang santai. Namun jawabannya sangat mengejutkan hati.
“semua ruangan sudah terisi penuh” jawab dokter ketus
“saya tidak meminta ruangan dok, saya hanya minta tolong anak ini diperiksa penyakitnya”
“siapa yang bertanggung jawab??”dokter itu membentak lagi.
“saya...!!”
“ya sudah, kamu bayar dulu diloket, baru nanti anak itu diperiksa”
“ya Allah....” hatiku menjerit. Sedangkan aku tak memiliki uang sepersenpun. Tanpa berfikir panjang, kugendong lagi farhan untuk menuju rumah sakit lain. Keadaanya sudah semakin parah. Kudekap erat tubuhnya. Sambil berlari, dan nafas yang tersengal-sengal, aku terus memberi sugesti kepada Farhan.
“tahan ya far....abang pasti sampai kerumah sakit. Dan kamu pasti sembuh”
yang kuajak bicara tidak menjawab. Giginya sudah tidak bergemeletak lagi. Hangat tubuhnya berangsur mendingin. Kuhentikan lariku. Perlahan kutengok wajah teman cilikku.
“Allahu akbar.....Allaaaaaahu akbar. ya Allaaah........farhan...FARHAAAAAAANN......!!!”
farhan menghembuskan nafas terakhirnya dalam dekapanku.
Kemudian beberapa lagi kisah menyedihkanku ketika hidup dijalanan. Sejak saat itu pula aku seperti menghardik Allah.
“ya Allah ! Kau pertemukan aku dengan hambaMU yang lemah dan menyedihkan itu. Apakah Kau akan membiarkan mereka terus menderita dan nelangsa? Tidakkah Kau ingin ada seseorang yang mebantu mereka? tidak pantaskah jika aku yang membantu mereka? jika memang aku tidak pantas untuk meringankan beban mereka, tolong ya Allah...tolong jadikan aku orang yang paling miskin dan menderita didunia. Berikanlah seluruh penderitaan milikMU buatku semuanya, jangan ada yang tersisa sedikitpun dimuka bumi ini. Hingga tak satupun hambaMU yang merasakan penderitaan. Agar tak ada lagi yang miskin dan merana”.

Sejak saat itu aku membagi setiap penghasilanku menjadi 5 bagian. Seperlima buatku, seperlima buat orangtuaku, seperlima buat keluarga, seperlima buat tabungan, dan seperlimanya lagi buat ngasih jajan anak yatim. Meskipun pekerjaanku hanya berdagang asongan yang penghasilannya tidak lebih dari sepuluh ribu sehari.

Suatu ketika, disaat aku beristirahat didepan kantor PLN. Telingaku tak sengaja mendengar obrolan beberapa orang yang membicarakan bahwa PLN sedang membutuhkan karyawan. Keesokan harinya, aku datang kekantor PLN dengan membawa ijazah serta surat-surat lainnya. Alhamdulillah, singkat cerita aku diterima bekerja di PLN itu. karena penghasilanku sudah meningkat, maka aku memberanikan diri untuk mengasuh anak- anak yatim sebanyak 7 orang dirumahku. Walaupun aku masih mengontrak, tapi aku yakin, Allah tidak akan membiarkanku terlunta-lunta, karena keberadaan yatim itu.
Waktu berlalu. Seperti dihujani keberkahan, taraf perekonomian rumahtanggaku melaju pesat. Kutampung anak yatim lebih banyak lagi. Kini hingga mencapai dua puluh orang. Dan subhanallah. Keberadaan anak yatim serta anak jalanan dirumahku itu seperti ajimat yang sangat manjur. Entah ada angin apa. Aku dipinta untuk menggantikan khotbah jum’at di kampungku. Dan mulai saat itu aku mendapat julukan ustadz. Yah, ustadz kampung. Namun Allah berkehendak lain. Aku mulai beranjak ceramah keluar kota. Pulau. Bahkan, subhanallah, aku mulai go internasional.
Brunai, hongkong, singapore, malaysia, korea, taiwan, jerman, amerika dan negara –negara lainnya hampir telah kujelajahi semua. Masya Allah, inikah keajaiban? Keajaiban memelihara anak-anak yatim dan fakir miskin.
Karena aku tak mungkin bisa membagi waktu antara jadwal ceramahku dan pekerjaan di PLN. Maka aku memutuskan untuk berhenti dari PLN.
Aku membeli rumah kontrakan yang aku tempati. Bahkan syukur alhamdulillah, rumah-rumah yang ada disekeliling kontrakan itupun berhasil kubeli. Dan kini jadilah sebuah pesantren mini. Yah, pesantren yatim dan dhu’afa.

Didalam keheningan, memoriku kembali kemasa lalu disaat aku masih berdagang asongan. Rinduu sekali dengan saat-saat seperti dahulu. Bercengkrama dijalan dan pergaulan liar yang hanya dibatasi oleh kekuatan iman untuk tidak masuk kedalam jurang kenistaan berupa kemaksiatan.
Pada hari dimana aku tidak memiliki jadwal ceramah. Kusempatkan untuk turun lagi kejalan seperti dahulu. Dan.....
Ya Allah, hatiku runtuh melihat semakin ramainya wanita-wanita tua yang harus menjadi pelacur untuk sekedar cari makan. Para tukang becak dan ojek yang ingin mendapatkan uang tambahan dengan cara berjudi. Bathinku gugur melihat semaraknya copet- copet diterminal mencari uang buat berobat anaknya yang sedang sakit. Jiwaku menjerit melihat sekian banyak orang stress yang mencari ketenangan lewat minum alkohol, narkoba dan sejenisnya. Ya Allah, sanubariku meratap melihat beberapa TKW yang mengotori perjuangannya mencari nafkah dengan mencuri barang milik majikannya.
Astagfirullah haladzim......!
Ya Allah, mereka melakukan semuanya mungkin karena keadaan yang terdesak, sementara aku yang mampu ini tidak mau tahu dengan keadaan mereka. mereka harus berbuat dosa untuk menyelamatkan hidupnya dan hidup keluarganya. Sementara aku asyik dengan kegiatanku sendiri. Ku fikir, amalku sudah cukup dengan mengasuh anak-anak yatim dan fakir miskin itu. Ku fikir aku sudah merasa bahagia dengan bisa meringankan beban mereka. ku fikir aku sudah bisa dibilang mencintai hambaMU dengan mengeluarkan uang sedikit itu. Lalu bagaimana agar aku bisa mencintai mereka secara kaffah? Ya Allah, jika aku berkuasa untuk menciptakan surga dan neraka. Maka ku tutup neraka buat mereka. namun karena surga dan neraka merupakan aturan mainMU yang keduanya harus ada penghuninya, maka, besarkanlah tubuhku menjadi yang paling besar. Dan masukkan aku ke nerakaMU. Agar tak ada lagi hambaMU yang masuk kedalamnya.

Setelah lelah aku melakukan perjalanan. Aku berteduh disuatu masjid hingga ketiduran. Disana aku bermimpi. Sebuah suara tanpa rupa. Menggema dan menggetarkan seluruh jiwa dan ragaku.

“wahai hambaKU. Seperti maumu, bulan ini kututup neraka bagi hambaKU. ramadhan Ini adalah bulan kesempatan buat para hambaKU yang ingin memperbaiki diri. Kusuruh mereka berlapar dan dahaga agar bisa merasakan penderitaan hambaKU yang miskin lalu tergerak hatinya untuk menolong sesama. Ku rantai semua setan, agar hambaKU tak berbuat dosa hingga neraka akan menjadi kosong. Di ramadhan ini, AKU datang kepada hambaKU untuk berbisik dalam hati mereka agar mau bersedekah. KU tiupkan kelembutan dalam hatinya, agar mereka mau berkasih sayang dengan hambaKU lainnya. KU tambahkah rezeki mereka agar tak kurang ketika ia memberi. Tapi sayang, seperti kau lihat sendiri. Banyak manusia yang tidak mau menjadi hambaKU”.
 
 
Dikisahkan, seorang salaf berkata, “Dahulu aku adalah seorang yang tenggelam dalam berbagai macam perbuatan maksiat dan mabuk-mabukan. Pada suatu hari aku menemukan seorang anak yatim yang miskin. Lalu aku ambil anak yatim itu dan aku berbuat baik kepadanya. Aku beri ia makan, pakaian, dan aku mandikan ia sampai bersih semua kotoran yang menempel di tubuhnya, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Aku menyayanginya seperti seorang ayah menyayangi anaknya, bahkan lebih. Malamnya aku tidur dan bermimpi bahwa kiamat sudah tiba. Aku dipanggil menuju hisab. Kemudian aku diperintahkan untuk masuk neraka karena banyaknya dosa dan maksiat yang aku kerjakan.

Malaikat Zabaniyyah menyeretku untuk memasukkanku ke dalam neraka. Saat itu aku merasa kecil dan hina di hadapan mereka. Tiba-tiba anak yatim itu menghadang di tengah jalan sambil berkata, ‘Tinggalkan ia wahai malaikat Rabb-ku! Biarlah aku memintakan syafaat untuknya kepada Rabb-ku! Dialah yang dulu telah berbuat baik kepadaku, telah memuliakanku!’

Malaikat berkata, ‘Tetapi aku tidak diperintahkan untuk itu.’ Sekonyong-konyong terdengar seruan dari Allah, firman-Nya, ‘Biarkan dia, sungguh Aku telah mengampuninya dengan syafaat anak yatim itu dan kebaikannya kepadanya!’ Lalu aku terbangun dan aku pun bertaubat kepada Allah ‘azza wa jalla, dan saya terus berusaha semaksimal mungkin untuk mencurahkan kasih sayang kepada anak-anak yatim.”

by: Dosa-dosa Besar, bab Memakan Harta Anak Yatim dan Menzhaliminya oleh Imam Adz-Dzhabi
 
 
Sumber: http://harapandiri.wordpress.com/2008/11/29/“-apa-di-surga-ada-orang-yang-bertatto”

Kenapa Allah swt hadirkan gelap! Agar kita tahu bahwa dengan terang segalanya akan terlihat jelas, lantas kenapa Allah swt hadirkan masa lalu yang suram dalam hidup kita ! agar kita sadar bahwa hidayah itu suatu yang mahal, yang Allah swt berikan kepada siapa saja yang mau membuka hati untuk perkara hidayah. Karena setiap orang, ya setiap orang tanpa kecuali, lepas apakah dia seorang yang memiliki kepahaman agama yang tinggi atau hanya seorang ahli maksiat mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh hidayah, tinggal seberapa jauh kita mau meraih dan mempertahankan hidayah tersebut.

Beberapa waktu yang lalu , Allah swt betul-betul telah “menampar” saya dalam artian yang sesungguhnya. Melalui kepergian seorang sahabat, Allah seakan ingin menunjukan bahwa hidayah dan surga bukan milik sekelompok orang, melainkan milik setiap orang yang dengan hati hancur datang kedepan pintu-Nya, berharap memperoleh kasih-Nya.

Betapa adilnya Allah dan betapa beruntungnya sahabat saya, karena Allah telah pilih dia kembali kepada-Nya dalam keadaan memperbaiki diri dirumah-Nya dalam balutan malam yang tenang, yang hanya Allah dan malaikat-Nya yang mengetahui bagaimana perjuangan almarhum sahabat saya meninggal dunia dalam pertobatannya.

Ketika pertama kali bertemu dengannya, saya memandang hanya dengan sebelah mata, iblis telah menguasai hati saya , sehingga perasaan lebih baik darinya yang waktu itu muncul, tapi keinginan untuk menjadi lebih baik yang datang dari hatinya menghantarkan dia pada pintu hidayah-Nya.

Pagi itu seperti bulan-bulan sebelumnya, saya dan beberapa teman mengadakan program perbaikan diri dengan cara beritikaf dimasjid sekitar tempat tinggal untuk belajar dakwah. Dan seperti biasa pula setiap pagi diadakan taklim pagi, dimana dibacakan kisah-kisah para sahabat Nabi dan perbaikan cara membaca alqur’an.

Selama mejalani program taklim, mata saya seakan sulit diajak kompromi, begitu berat untuk di buka, bukan karena malam sebelumnya saya banyak melakukan sholat malam, melainkan begitu banyaknya dosa yang ada di diri saya sehingga dalam majelis ilmu saya masih juga mengantuk. Seperti biasa setiap taklim pagi maka di buat jaulah taklim ( berkeliling di sekitar lingkungan masjid untuk mengajak orang duduk dalam majelis taklim ). Saya dan seorang teman mendapatkan tugas jaulah taklim. Dan garis nasib menghantarkan saya bertemu dengan sekelompok pemuda yang satu diantaranya menjadi sahabat saya. Beberapa orang dari pemuda itu mencoba pergi ketika melihat saya dan teman saya mendekat , mungkin mereka fikir kami kelompok Islam garis keras yang mencoba mengganggu keasikan mereka, tinggal seorang pemuda yang tetap berada di situ. Kami mencoba memperkenalkan diri dan menerangkan maksud tujuan kami datang menemui dirinya serta kami mengajak beliau sama-sama ke masjid untuk duduk dalam majelis taklim yang baru saja di mulai. Pemuda itu hanya diam, entah apa yang ada di benaknya, apakah dia berpikir saya dan teman saya hanyalah sekelompok orang yang mengganggu kesenangan dirinya atau entahlah mungkin hanya dirinya dan Tuhan yang tahu.

Saya mulai aga kesal karena dirinya seperti tiada reaksi sama sekali, dia hanya tertunduk tanpa berani beradu pandang, beberapa saat sebelum kami undur diri untuk kembali ke masjid, tiba-tiba pemuda tersebut akhirnya buka suara, ” Apa boleh orang bertatto ke masjid ?”, tanyanya waktu itu, lantas saya menjawab boleh asal dalam keadaan suci dari najis, siapa saja asalkan dia muslim boleh ke masjid. Dia hanya diam, saya seperti mendapatkan angin untuk terus berusaha agar dia mau ikut ke masjid, saya mulai bercerita banyak hal tentang kisah-kisah para sahabat nabi yang ketika masa jahiliyah begitu jahil , tapi setelah mereka bertaubat mereka menjadi ahli-hali surga.

Akhirnya dirinya mau ikut ke masjid bersama kami, setelah membersihkan diri dan mengenakan pakaian yang saya pinjamkan ia duduk bersama kami mendengarkan taklim pagi, betapa gembiranya hati saya ketika akhirnya ia mau ikut ke masjid, tak ada kata-kata yang sebanding dengan perasaan saya pada waktu itu, mungkin hanya orang-orang yang pernah terjun langsung tahu bagaimana sulitnya berdakwah di tengah-tengah manusia untuk mengajak mereka kembali kepada Allah dan ketika satu diantara mereka mau kembali taat kepada Allah, rasanya dunia dan isinya tak sebanding dengan perasaan senang yang ada di diri kita.

Lepas bada zuhur, dirinya mendekati saya dan menanyakan apakah dirinya boleh bergabung dengan kami, dan tentu saja boleh karena dakwah adalah tugas setiap umat Islam tanpa kecuali, kalau hewan yang lebih rendah dari manusia boleh berdakwah bahkan di abadikan dalam alqur’an ( semut, burung hud-hud dll ) apalagi manusia yang mempunyai tugas sebagai khalifatullah di muka bumi jelas lebih boleh lagi untuk berdakwah. Dengan berdakwah Allah swt akan perbaiki diri kita seperti yang terjadi pada diri para Nabi dan sahabatnya dan hal tersebut yang juga akan terjadi pada diri setiap orang yang mengambil kerja dakwah sebagai jalan hidupnya.

Sepanjang hari ia hanya diam, mungkin proses hidayah sedang terjadi pada dirinya, dan lepas tengah malam, saya menemuinya sedang menangis berurai air mata di pojok mesjid, saya tak berani mendekat dan hanya melihat dari kejauhan. Pemandangan yang sangat indah, dimana pada pagi hari dirinya masih bermaksiat kepada Allah swt tapi pada malamnya ia sedang menangisi dosa-dosanya. Saya menjadi malu terhadap diri sendiri, seakan saya merindukan saat-saat seperti itu , dimana begitu nikmatnya melewati malam berdua dengan-Nya, bermunajad dihadapan-Nya dengan air mata dan hati yang hancur.

Beberapa bulan setelah kejadian itu saya tidak lagi bertemu dengan almarhum karena memang tempat tinggal dan kesibukan kami yang tidak memungkinkan, tapi kami masih tetap berhubungan via telpon , sampai akhirnya 2 minggu yang lalu saya bertemu dengan dirinya di salah satu mesjid tua di kawasan kebun jeruk Jakarta Pusat.

“Ane mau belajar dakwah 40 hari “ ucapnya. Saya hanya bisa tersenyum bahagia mendengar penuturannya. ” Routenya kemana ? “ Tanya saya. “Belum di putus, besok pagi selepas bayan subuh baru ketahuan routenya, karena ane gabung dengan jamaah yang lain” jawabnya singkat. Sesaat kemudian dirinya bertanya hal yang sama seperti saat kami pertama kali bertemu. ” Apa di surga ada orang yang bertatto?” tanyanya dengan aga ragu. Dan sekali lagi saya yang sombong , yang angkuh yang ahli maksiat tapi sok bersih menjawab dengan ringannya tanpa mencerna dan berpikir lebih jauh tentang pertanyaan Almarhum tersebut. “Mana ada di surga orang yang bertatto , kalau di neraka banyak”. Jawab saya, dan almarhum hanya tertunduk sedih, saya segera menyadari kesalahan saya dan meralat ucapan saya “Tapi ente tenang aja kalau ente tetep buat dakwah , nanti ente juga akan masuk surga dan Allah sendiri yang akan menghapus tatto ente”. Almarhum sahabat saya tersenyum bahagia dengan jawaban saya, senyum yang terakhir yang saya lihat, karena saya tidak akan pernah melihat senyumnya lagi, sebuah sms saya terima malam kemarin yang mengabarkan ia telah meninggal dunia ketika dirinya sedang berlajar berdakwah, islah diri, belajar menjadi hamba yang taat, belajar mencintai Allah swt dan Rasul-Nya.

Selepas bersilaturahmi bada isya almarhum pamit dengan amir jamaah untuk tidur lebih awal karena kondisi badannya yang kurang baik, dan mendekati subuh terlihat almarhum masih tertidur, dan ketika salah satu rekan mencoba membangunkannya ternyata almarhum telah tiada, pergi meninggalkan dunia untuk bertemu Allah swt bertemu dengan sosok yang dicintainya yaitu Rasulullah saw dan para sahabat-nya, meninggalkan dunia pada saat pertobatannya. Kematian yang indah, yang selalu saya rindukan, mati di jalan-Nya, mati ketika mencoba meraih cinta-Nya.

Selamat jalan sahabat, di surga memang tiada akan ada pria bertatto , yang ada hanya pria tampan, yang suka miscall tengah malam untuk bangunin tahajud, yang suka bangun malam dan nangis kaya anak kecil, yang suka bikin gw kesel karena selalu berantakan kalau makan berjamaah, yang suka tiba-tiba batalin janji pada hal udah jauh-jauh hari dibuat. Kita memang gak akan pernah ketemu lagi di dunia, gak pernah bisa keluar masturah bareng, gak pernah akan bisa ke IPB ( India, Pakistan, Bangladesh ) berdua. Dan elo gak bisa baca blog gw lagi, pada hal elo pengen banget kita sama-sama hadir ijtima Bulan Juli nanti dan elo pengen banget ngerasin duduk di bawah tenda dan poto elo gw tampilin di blog jelek gw ini, tapi rasanya itu cuma mimpi, karena pastinya gak akan bisa terjadi. Sekarang elo dah tenang di sana, tugas elo di dunia dah selesai, tinggal gw yang masih gamang dengan jalan hidup sendiri.

Selamat jalan sahabat, semoga Allah selalu menjaga dan menerima tobat dirimu. Semoga kami yang di tinggalkan dapat memetik banyak pelajaran dari perjalanan hidupmu. Dan semoga Allah swt kekalkan kami dalam usaha dakwah, dakwah sebagai maksud hidup, hidup untuk dakwah , dakwah sampai mati dan mati dalam dakwah.

Alloh humma firlahu war hamhu wa afi’i wa’fuanhu. Amin.
 
 
Picture
Konon pada jaman dahulu, di Jepang ada semacam kebiasaan untuk membuang orang lanjut usia ke hutan. Mereka yang sudah lemah tak berdaya dibawa ke tengah hutan yang lebat, dan selanjutnya tidak diketahui lagi nasibnya.

Alkisah ada seorang anak yang membawa orang tuanya (seorang wanita tua) ke hutan untuk dibuang. Ibu ini sudah sangat tua, dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Si anak laki-laki ini menggendong ibu ini sampai ke tengah hutan. Selama dalam perjalanan, si ibu mematahkan ranting-ranting kecil. Setelah sampai di tengah hutan, si anak menurunkan ibu ini.
"Bu, kita sudah sampai",kata si anak. Ada perasaan sedih di hati si anak. Entah kenapa dia tega melakukannya.
Si ibu , dengan tatapan penuh kasih berkata:"Nak, Ibu sangat mengasihi dan mencintaimu. Sejak kamu kecil, Ibu memberikan semua kasih sayang dan cinta yang ibu miliki dengan tulus. Dan sampai detik ini pun kasih sayang dan cinta itu tidak berkurang.
Nak, Ibu tidak ingin kamu nanti pulang tersesat dan mendapat celaka di jalan. Makanya ibu tadi mematahkan ranting-ranting pohon, agar bisa kamu jadikan petunjuk jalan".
Demi mendengar kata-kata ibunya tadi, hancurlah hati si anak. Dia peluk ibunya erat-erat sambil menangis. Dia membawa kembali ibunya pulang, dan ,merawatnya dengan baik sampai ibunya meninggal dunia.

Mungkin cerita diatas hanya dongeng. Tapi di jaman sekarang, tak sedikit kita jumpai kejadian yang mirip cerita diatas. Banyak manula yang terabaikan, entah karena anak-anaknya sibuk bisnis dll. Orang tua terpinggirkan, dan hidup kesepian hingga ajal tiba. kadang hanya dimasukkan panti jompo, dan ditengok jkalau ada waktu saja.

Kiranya cerita diatas bisa membuka mata hati kita, untuk bisa mencintai orang tua dan manula. Mereka justru butuh perhatian lebih dari kita, disaat mereka menunggu waktu dipanggil Tuhan yang maha kuasa. Ingatlah perjuangan mereka pada waktu mereka muda, membesarkan kita dengan penuh kasih sayang, membekali kita hingga menjadi seperti sekarang ini.